Thursday 13 December 2012

Review: Tetangga Culun - Colin Thompson


Betty, anak bungsu Keluarga Flood, merupakan seorang gadis cilik yang terlihat cukup normal—tidak seperti kakak-kakaknya. Dia belajar di sebuah sekolah dasar yang normal di ujung jalan dekat rumahnya, dan dia bahkan memiliki seorang teman baik yang normal, Ffiona Hulbert.

Namun, Betty tidak normal—dia seorang penyihir. Ketika Bridie McTort, si penindas di sekolah, mulai bertingkah, Betty tahu pasti apa yang harus dia lakukan. Dan saat ayah Ffiona ditindas di tempat kerjanya, Betty juga tahu cara mengatasi masalah itu.

Sementara itu, Winchflat Flood sednag ketagihan menonton film-film Frankenstein lama dan dia memutuskan ingin menciptakan manusianya.

“Kalau kamu belum membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama, kamu mungkin merasa seperti pencundang sejati, yang tentu saja memang benar. Namun, hari ini merupakan hari keberuntunganmu karena ada cara untuk berhenti menjadi pecundang dan mulai menjalani hidup secara utuh serta fantastis. Yang perlu kamu lakukan hanyalah membaca ketiga buku Keluarga Flood yang pertama.”
(Colin Thompson –Tetangga Culun hlm 1)

Dari ke empat buku Keluarga Flood yang telah terbit, ini adalah seri favorit saya. Ceritanya tidak segelap buku - buku sebelumnya. Di sini juga tidak lagi menggambarkan sisi gelap Keluarga Flood. Malah sebaliknya. Lihat saja bagaimana sikap Morodonna dan Betty pada tetangga baru mereka.

Keluarga baru itu pindah ke Acacaia Avenue nomor 19. Keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dua orang anak. Dari hasil pengamatan Mordonna dan Betty dari jauh maupun dekat mereka terlihat sangat culun dan membosankan. Namun begitu mengetahui bahwa salah satu anak perempuan itu seusia dengan Betty, keluarga itu tiba – tiba menjadi sangat menarik. Betty memang telah lama menunggu seseorang yang seusianya yang dapat diajak bermain

Setelah puas melakukan pengamatan diam – diam, Mordonna dan Betty pun memulai kunjungan pertama mereka ke rumah tetangga baru mereka. Keluarga baru itu bernama Keluarga Hulbert. Sedangkan anak perempuan yang seusia dengan Betty bernama Ffiona. Dari hasil penjelasan Mrs Hulbert, ternyata ada sejarah dibalik nama Ffiona. Untuk saja hal yang sama tidak terjadi pada Claude, adik bayi laki – lakinya.

Sementara Mordonna menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Mrs Hulbert, Ffiona mengajak Betty bermain di kamarnya. Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk menjadi akrab. Cerita demi cerita bahkan yang rahasia sekali pun mengalir dari keduanya.

Dari cerita Ffiona, Betty tahu alasan mengapa keluarga mereka pindah ke Acacia Avenue. Salah satunya adalah hal – hal buruk yang terjadi pada Ffiona di sekolahnya dulu. Bukan hanya sekali tapi berkali – kali. Sedangkan dari cerita Betty, ia tahu bahwa Keluarga Flood adalah keluarga penyihir.

Hari demi hari mereka berdua semakin akrab. Tidak hanya menunjukkan kekuatan sihir yang sayangnya lebih banyak gagal, Ffiona pun diajak berkenalan dengan seluruh anggota Keluarga Flood yang lain. Ffiona benar- benar disambut dengan baik. Bahkan menarik perhatian dua anak kembar Flood.

Sampai ketika waktu masuk sekolah tiba. Hari pertama yang selalu menyisakan trauma bagi Ffiona. Betty yang merasakan ketakutan sahabatnya, berjanji tidak akan membiarkan satu orang pun menyentuhnya.
Di lain pihak, hari pertama sekolah ternyata disambut baik biang kerok yang paling terkenal di Sekolah Sunnyview, Bridie McTart, mulai bertingkah. Bridie Mc Tart memang tak mengganggu Betty, tapi sayangnya tidak benar – benar membuka matanya, korban yang dipilihnya kali ini adalah Ffiona. Sehingga saat Bridie mulai bertindak, balasan setimpal pun dalam sekejap didapatkannya.

Tidak hanya Ffiona, masalah –masalah yang dihadapi Mr dan mrs Hulbert pun diatasi dengan mudah. Tentu saja dengan sedikit bantuan sihir Keluarga Flood. Sehingga kini tidak ada lagi kata culun ataupun membosankan. Bagaimana perubahan Keluara Hulbert? Tentunya hanya bisa terjawab ketika membaca buku ini dari awal sampai akhir.

Seperti warna sampul yang sangat cerah, buku ini juga berakhir dengan hal – hal yang menyenangkan. Senang rasanya membaca buku Keluarga Flood kali ini.

Satu yang menarik perhatian saya dari buku ini adalah kalimat – kalimat Pak Colin mengenai Belgia. Banyak di dalam bab – bab di buku ke empat ini yang menuliskan betapa ia tidak menyukai negara yang satu ini. sayangnya hingga saat ini tidak ada keterangan yang dapat menceritakan mengapa penulis nyentrik ini membenci neara yang beribu kota Brussel itu. Sebenarnya bukan kali ini saja, di buku – buku sebelumnya juga seperti itu. Sayang di website miliknya juga tidak ada keterangan apapun. Mungkin ada alasan tertentu yang tidak dapat diungkap ke publik. Entahlah. 

Keluarga Flood: Tetangga Culun
Judul Asli: Te Floods #4:
Penulis: Colin Thompson
Penerjemah: Ferry halim
Penyunting: Indah Nurchaidah
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Januari 2009
Tebal: 218 hlm

No comments:

Post a Comment